
Kab. Kediri (MTsN 3) — Memasuki hari kedua, Workshop Media Pembelajaran dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di MTsN 3 Kediri berlangsung semakin interaktif. Kegiatan yang digelar di Meeting Room MTsN 3 Kediri, Sabtu (3/10/2026), tersebut mengusung tema “Mengabdi dengan Empati, Berinovasi dengan AI.”

Pada hari kedua kegiatan In ini, peserta mendapatkan penguatan materi tentang implementasi media pembelajaran berbasis digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Materi disampaikan oleh Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kankemenag Kabupaten Kediri, Sahrul Munir, serta pemateri utama Akhmad Sugiarto dari MTsN Batu.

Mengawali penyampaian materi, Sahrul Munir memberikan penguatan tentang pentingnya rasa syukur atas nikmat kesehatan dan kehidupan yang dimiliki seorang guru. Menurutnya, profesi guru merupakan salah satu bentuk kenikmatan dan kebahagiaan lahir batin karena melalui guru lahir ilmu yang bermanfaat bagi peserta didik.

Ia kemudian mengaitkan peran guru dengan penguatan Kurikulum Berbasis Cinta. Pendidikan, menurutnya, tidak cukup hanya mengembangkan kemampuan intelektual peserta didik, tetapi juga harus mampu membangun kepekaan rasa dan karakter.
“Dari deep learning menuju deep feeling. Pendidikan tidak sekadar mengasah intelektual, tetapi juga membangun kepekaan rasa dan karakter peserta didik,” jelasnya. Sahrul Munir juga menekankan pentingnya madrasah menjadi benteng perlindungan bagi anak. Guru dan seluruh ekosistem pendidikan memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, serta bebas dari perundungan dan kekerasan, baik secara fisik maupun verbal.

Dalam pemaparannya, ia turut menjelaskan Panca Cinta sebagai salah satu pilar dalam Kurikulum Berbasis Cinta. Media pembelajaran tidak hanya dipandang sebagai alat untuk menyampaikan materi, tetapi juga menjadi jembatan untuk menghadirkan nilai-nilai empati dalam proses pembelajaran.
“Media pembelajaran harus menjadi jembatan empati. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menghadirkan kepedulian dan rasa dalam proses pembelajaran,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Sahrul menjelaskan bahwa aktor pendidikan dalam implementasi KBC meliputi guru, kepala madrasah, dan peserta didik. Oleh karena itu, seluruh unsur tersebut perlu membangun budaya madrasah yang berlandaskan nilai cinta dan kepedulian. Ia juga memaparkan empat prinsip desain media pembelajaran berbasis cinta, yakni inklusif dan ramah akses, bebas kekerasan verbal, memiliki narasi yang menggugah hati, serta berorientasi pada solusi.
“Guru MTsN 3 Kediri harus menjadi teladan cinta. Mendidik dengan hati dan menginspirasi dengan cinta,” pesannya. Sementara itu, pemateri utama Akhmad Sugiarto dari MTsN Batu membawakan materi bertajuk “AI sebagai Asisten Guru: Panduan Praktis Merancang Media Pembelajaran.” Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk membantu guru dalam menyiapkan berbagai kebutuhan pembelajaran.

Akhmad menegaskan bahwa kehadiran AI bukan untuk menggantikan peran guru. AI justru dapat dimanfaatkan sebagai asisten yang membantu guru bekerja lebih efektif dan kreatif. “Gunakan AI sebagai asisten produksi. Guru adalah nahkodanya,” tegas Akhmad.
Ia memperkenalkan sejumlah platform AI yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, di antaranya Wayground, NotebookLM, Claude, Gemini, dan ChatGPT. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi juga diajak langsung mempraktikkan pemanfaatan AI. Suasana workshop semakin interaktif ketika peserta mulai mencoba membuat media pembelajaran dan kuis dengan memanfaatkan berbagai platform AI. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif selama sesi praktik dan diskusi.

Usai kegiatan, Kepala MTsN 3 Kediri Doni Setiawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian workshop selama dua hari kegiatan In dengan penuh antusias. “Terima kasih kepada seluruh peserta yang sudah hadir dan mengikuti kegiatan selama dua hari ini. Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat diterapkan dan memberikan manfaat dalam pembelajaran di madrasah,” tuturnya.

Doni juga mengingatkan peserta untuk menindaklanjuti penugasan yang telah diberikan oleh para pemateri sebagai bagian dari proses penerapan hasil workshop. Melalui workshop tersebut, MTsN 3 Kediri terus mendorong guru untuk menjadi pendidik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus tetap menempatkan nilai empati, cinta, karakter, dan kepedulian sebagai fondasi dalam proses pendidikan. (hms)