
Kab. Kediri (MTsN 3) — Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Kediri, Achmad Fa’iz, membuka secara langsung Workshop Media Pembelajaran dalam Kurikulum Berbasis Cinta yang digelar di MTsN 3 Kediri yang bertempat di meeeting room, Jumat (2/10/2026). Kegiatan mengusung tema “Mengabdi dengan Empati, Berinovasi dengan AI”.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pembelajaran, khususnya pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) secara tepat, bijak, dan bertanggung jawab di lingkungan madrasah. Kepala MTsN 3 Kediri, Doni Setiawan, menjelaskan bahwa workshop dilaksanakan selama enam hari dengan model kegiatan in dan on. Kegiatan in dilaksanakan pada 2–3 Oktober 2026, sedangkan kegiatan on berlangsung pada 4–7 Oktober 2026.

“Workshop ini dilaksanakan dengan dua model, yakni in dan on. Pada hari pertama menghadirkan tiga pemateri, sedangkan pada hari kedua memasuki materi inti tentang media pembelajaran dalam kurikulum berbasis cinta yang disampaikan oleh Achmad Sugiarto dari MTsN Batu, Malang,” jelas Doni.
Doni Setiawan menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam pembelajaran harus tetap berlandaskan nilai empati dan kepedulian terhadap peserta didik. Guru tidak hanya dituntut mampu menguasai teknologi, tetapi juga menghadirkan hati dalam proses pembelajaran.
“Menghadirkan hati di kelas, peduli dengan memanfaatkan AI di kelas. Guru harus adaptif dan inovatif dengan AI. Jangan sampai kalah dengan siswa. AI bukan penghambat, tetapi mitra kerja kita,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Kankemenag Kabupaten Kediri, Achmad Fa’iz, dalam sambutannya menyampaikan bahwa workshop tersebut memiliki tujuan utama untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia, khususnya kompetensi guru dalam menghadapi perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

“Perkembangan teknologi sangat cepat. Karena itu, guru harus selalu adaptif dan inovatif dalam mengikuti perkembangan teknologi,” ujarnya. Achmad Fa’iz juga mengingatkan pentingnya penggunaan gawai secara bijak di lingkungan madrasah. Menurutnya, penggunaan gawai perlu mendapatkan pembatasan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan melalui Surat Edaran Kementerian Agama.

“Kadang kita perlu tegas dalam penggunaan gawai. Jika digunakan secara berlebihan, tentu ada dampak buruk yang bisa didapatkan,” jelasnya. Selain itu, ia menekankan pentingnya membekali peserta didik dengan kemampuan memilah dan menyaring informasi yang mereka temukan di media sosial. Guru memiliki peran strategis dalam memberikan pendampingan agar peserta didik mampu menggunakan teknologi secara positif.
“Anak-anak perlu dibekali filter agar dapat memilah apa yang mereka temukan di media sosial,” pesannya. Dalam kesempatan tersebut, Achmad juga menyampaikan sejumlah arah pengembangan madrasah, di antaranya mendukung Gerakan Ekoteologi, penguatan program Adiwiyata, mewujudkan madrasah ramah anak, serta memperkuat digitalisasi madrasah.

Ia mengingatkan agar guru tetap mendampingi peserta didik dalam kegiatan keagamaan sebagai bagian dari penguatan karakter dan ciri khas madrasah sebagai lembaga pendidikan berciri khas Islam. “Madrasah harus terus berinovasi. Bapak dan Ibu guru juga perlu mendampingi kegiatan keagamaan sehingga karakter dan ciri khas Islam di madrasah tetap kuat,” ungkapnya.

Materi workshop juga diperkuat dengan pembinaan dari Pengawas Madrasah, Nurul Faiqoh. Ia menyampaikan materi terkait tugas pokok dan fungsi guru wali sekaligus memberikan pemahaman mengenai perbedaan antara guru wali dan wali kelas. Nurul Faiqoh menjelaskan bahwa guru wali merupakan pendidik atau guru mata pelajaran pada jenjang SMP, SMA, atau SMK yang mendapatkan tugas khusus untuk memberikan pendampingan personal, akademik, pengembangan kompetensi, keterampilan, dan pembentukan karakter kepada sejumlah peserta didik secara berkelanjutan sejak awal pendaftaran hingga lulus dari satuan pendidikan yang sama.
Sementara itu, wali kelas merupakan guru yang memperoleh tugas tambahan dari kepala madrasah untuk mengelola, membimbing, dan mengurus administrasi serta berbagai kebutuhan kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Kegiatan workshop turut dihadiri Pengawas Madrasah Nurul Faiqoh dan para kepala madrasah se-KKM MTsN 3 Kediri. Peserta kegiatan berjumlah 63 orang yang terdiri atas guru dan tenaga kependidikan MTsN 3 Kediri serta perwakilan wakil kepala madrasah bidang kurikulum se-KKM MTsN 3 Kediri. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan guru dan tenaga kependidikan semakin siap menghadapi transformasi pendidikan di era digital dengan tetap mengedepankan nilai-nilai cinta, empati, karakter, dan kekhasan pendidikan madrasah. (hms)